Jumat, 17 Februari 2017

dira

Dira

Judul Cerpen Dira
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen PersahabatanCerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 February 2017
Andira Permata Sari, teman Mira yang kurang mampu, akan tetapi, Andira anak yang baik dan pintar.
Suatu hari
“Semuanya turun ke lapangan, untuk latihan upacara.” ujar Kak Novi, ketua OSIS.
Saat latihan, Dira naik dengan keluhan letih. Setelah Dira naik ke kelasnya, latihan pun dilanjutkan.
“Kayla, bilang Kak Novi aku mau menengok Dira ya!” Teriak Mira sambil berlari.
Sesampainya di atas, Mira perlahan berjalan menuju kelas, alangkah terkejutnya Mira ketika melihat Dira yang mukanya masih pucat mencuri uang dari tas Sella. “DIRA, APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN??!!” pekik Mira, Dira dengan terbata-bata menjawab
“aku… tak bermaksud…. tapi… kesehatan kakak dan aku beberapa hari ini menurun… dan kami tak punya uang untuk membeli… obat.”
Memang benar, Dira akhir akhir ini terlihat lemas, dia hanya tinggal berdua dengan kakak sepupunya, tanpa sanak saudara lain, Mira telah mengetahuinya. Dan, mereka lagi ditimpa masalah keuangan beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, Mira dan Dira sama-sama mengetahui bahwa perbuatan Dira itu salah.
“Dira, kumohon, kembalikan uang itu ke dalam tas Sella” ujar Mira lirih. Dira pun mengembalikan uang tersebut.
“Dira, aku akan membantumu, tenang saja, jangan pernah melakukan perbuatan seperti ini lagi” ucap Mira sembari memeluk Dira.
Sepulang sekolah, Mira dan Dira melihat undian. Mereka mengisi survei dan mengambil nomor lotre.
Seminggu kemudian, Dira dan Mira kembali ke tempat undian, tiket undian mereka berdua berhadiah uang sejumlah 100 juta US dollar. Dira langsung menangis terharu, “Mira, ini semua berkat kamu, sekarang aku dan kakak bisa membeli obat, dan kakak dapat melanjutkan kuliahnya, terima kasih.”
Mira dan Dira sekarang menjadi sahabat sejati dermawan yang hidup makmur bahagia.
Cerpen Karangan: Evalie

teman sempurna

Teman Sempurna

Judul Cerpen Teman Sempurna
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 February 2017
Hari ini, cuaca sedang hujan. Nayla membiarkan rambutnya ditiup angin. Tubuhnya yang sudah dingin itu, tak ia hiraukan. Ia ingin merasakan hujan ini. ‘andai aku bisa melihat hujan’ pikirnya.
Nayla mengambil tongkatnya, ia berjalan pelan menuju kamar. Sebuah bingkai lucu terpajang di meja belajarnya. Itu foto ia dan Vivi, sahabatnya. Nayla meraba bingkai itu, lalu tersenyum.
Keesokan harinya di sekolah…
“Hai Nayla…” sapa Vivi yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
“Ah, Halo Vivi.”
Senyum terpancar di wajah Nayla.
Tiba tiba, Leira dan Adisha berjalan melewati bangku Nayla dan Vivi. Leira tersenyum licik. Vivi berusaha menahan amarahnya. Senyum yang dipancarkan Nayla, tiba tiba saja menghilang. Vivi yang melihat itu, langsung menepuk pundak Nayla dan tersenyum.
Di kantin…
Vivi menuntun Nayla berjalan menuju kantin, dan membantu Nayla duduk. Nayla dan Vivi segera memesan makanan.
“Biar aku saja ya yang ambil makanannya” usul Vivi.
Nayla menggeleng.
“Tidak usah, aku bisa sendiri.” tolak Nayla.
Nayla berjalan dengan sangat hati hati sambil membawa nampan. Karena di sini cukup ramai. Ternyata, Leira dan Adisha melihat Nayla dari kejauhan. Sepertinya Leira punya ide jahat.
“Adisha, Kamu lihat si buta itu kan?”
Adisha mengangguk.
“Coba tolong kamu dorong si buta itu sampai makanan yang dia bawa jatuh. atau kalau bisa, sekalian sama orangnya” bisiknya.
Adisha segera melaksanakan apa yang dikatakan Leira. Ia segera berjalan menghampiri Nayla. Dann… BRUKK.
“Aduhh..” rintih Nayla.
Keringat dingin bercucuran dari tubuh Adisha. tanpa basa basi, Ia bergegas untuk kabur.
Nayla buru buru mengambil tongkatnya. Vivi kaget ketika melihat Nayla, Dan langsung berlari menolong Nayla.
“Nayla, kenapa bisa begini? Aduh.. seragammu basah” Vivi membereskan makanan Nayla yang tumpah.
Leira yang melihat kejadian itu, langsung tertawa sinis.
Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua murid berhamburan ke luar kelas.
Adisha terlihat sedang bingung. Ia merasa berdosa melakukan hal buruk tadi. Dia ingin meminta maaf, tapi dia malu.
Tiba tiba tangan Adisha bergetar, ketika melihat Nayla dan Vivi. Tanpa pikir panjang, Adisha menghampiri mereka.
Tentu saja, Nayla dan Vivi terkejut melihat Adisha.
“Loh, Adisha?” kata Nayla heran.
“Mau ngapain kamu, Biasanya kan kamu sama Leira.” Vivi juga heran.
“Ngg… Aa..ku mm..mau minta maaf” Tunduk Adisha menyesal.
“Sebenarnya tadi aku yang mendorong Nayla di kantin.” Sambung Adisha.
“Aku sungguh minta maaf” sambungnya lagi.
Nayla tersenyum.
“Iya, aku maafin kok”
“Terima kasih Nayla, Vivi” Adisha membalas senyuman Nayla.
Dan sekarang, Adisha bersahabat dengan Nayla dan Vivi. Sementara Leira… Entah bagaimana nasib Leira selanjutnya.
Cahaya matahari mulai terpancar, hari ini, harus menjadi hari yang sempurna. Cahaya cahaya itu menembus jendela kamar Nayla. Terlihat, beberapa kupu kupu riang beterbangan di langit. Nayla membuka perlahan jendela, untuk menghirup segarnya udara pagi. Walaupun dunianya sama sekali tak berwarna, Tapi hari yang cerah ini bisa dirasakan Nayla.
Di sekolah, seperti biasa Nayla disambut ria oleh sahabatnya. Sekarang Adisha tak bersama Leira lagi. Murid murid di kelas, menjauhi Leira karena sikapnya itu.
Leira akhirnya sudah datang. Setelah menyimpan tasnya, Leira menatap di sekeliling, Leira terkejut melihat Adisha mengobrol bersama Nayla dan Vivi. Ia langsung menghampiri mereka.
“ADISHA!!” Leira meluapkan amarahnya.
Sontak, Nayla dan Vivi kaget, apalagi Adisha.
Semua anak anak di kelas menatap Leira.
“KAMU NGAPAIN SAMA SI BUTA!!”
Mendengar kata “SI BUTA” Nayla hanya bisa diam terpaku, jantungnya berdetak kencang tak karuan.
Vivi tak mau diam saja, Amarahnya sudah tak bisa ditahan.
“APA URUSANMU! TERSERAH ADISHA MAU BERGAUL SAMA SIAPA SAJA! HAK HAK DIA DONG” Balas Vivi.
Suasana kelas menjadi gaduh, Nayla tak bisa berbuat apa apa. Selain Diam.
“AWAS AJA YA KALIAN!!” ucap Leira kesal. Lalu meninggalkan kelas.
Tanpa disadari, ternyata Adisha menangis. Ia semakin merasa bersalah. Adisha berlari-larian ke luar kelas.
Semua anak anak yang menyaksikan, langsung menyabarkan Nayla dan Vivi. Suasana kelas hari ini kacau. Ini bukan hari sempurna yang kuharapkan.
Tak tok tak tok..
Nayla berjalan sambil memegang tongkatnya. Kali ini dia sendiri. Sekarang ia ingin sendiri.
“Hhhhhh” Nayla menghela nafasnya.
Ia meregangkan tangannya dan mengangkat tangannya. Lalu mendongakkan kepalanya.
Hangat
Matahari ini sungguh…
Hangat di tanganku
Nayla menopang dagunya dengan tangan kanannya.
“Aku harap semuanya bisa berdamai” batinnya.
Nayla, Vivi, dan Adisha berusaha melupakan kejadian kemarin. Semua, Semua murid di kelas semakin menjauhi Leira. Hari ini, Adisha pindah tempat duduk. Tentunya, untuk menenangkan diri.
Hari demi hari sudah dilewati. Pagi, siang, malam dan seterusnya.
Nayla berjalan menuju toilet. Tiba tiba, ada suara tangisan di salah satu toilet. Nayla hendak mengetuk pintu toilet, tapi… niatnya ia urungkan.
Keesokan harinya…
Nayla berjalan pelan menuju kelas.
“5 ketukan kiri”
“3 ketukan kanan”
“1, 2. Dah sampai deh di kelas.” ucap Nayla senang.
Tapi…
Di ruang guru…
“Apa yang terjadi sama kalian dan Leira?” Tanya wali kelas, Bu Yuli.
Nayla, Vivi, dan Adisha terdiam.
“Kalian ini kenapa sama Leira? Sampai sampai orangtua Leira akan ke sekolah.” Tanya Bu Yuli lagi.
Mereka bertiga kaget. Mereka ingat perkataan terakhir Leira disaat mereka bertengkar.
Glekk.. Mereka menelan ludah.
Tok Tok Tok…
Seseorang masuk ke ruang guru. Dan ternyata itu… orangtua Leira. Terlihat beberapa barang barang mewah yang dipakai orangtua Leira.
Tanpa basa basi lagi, Orangtua Leira langsung berbicara dengan Bu Yuli.
“Saya mohon, tolong keluarkan mereka dari sekolah! Saya bisa memberikan apapun kepada pihak sekolah.” Tawar orangtua Leira sambil menatap tajam Nayla, Vivi, dan Adisha.
Tangan Vivi gemetaran.
Keringat bercucuran di kepala Nayla.
Sementara Adisha, mencoba menahan tangisnya.
Ketakutan mereka semakin menjadi jadi. Suasana ruang guru menjadi mencekam.
Tiba tiba…
“MAMA JANGAN SALAHKAN MEREKA!!!” Ternyata Leira sedaritadi mendengar semuanya.
“MEREKA INI GAK SALAH APA APA, JUSTRU LEIRA YANG SALAH!” sambungnya.
Ruang guru seketika sunyi.
“Aku yang salah, aku ini sombong.” Mata Leira berkaca kaca.
“Maafkan aku teman teman, Vivi, Adisha, terutama Nayla.” Air mata Leira sudah tak dapat dibendung. Leira jatuh duduk terpaku di lantai.
“Aku sungguh menyesal” Lirih Leira.
Nayla, Vivi, dan Adisha ikut menangis.
“Maafkan aku teman teman” Lirih Leira.
Ruang guru seketika dipenuhi suara tangisan.
“Iya, kita maafin kamu kok.” Adisha berusaha membantu Leira berdiri.
“Iya benar kita ikhlas kok maafin kamu” sambung Vivi sembari menyeka air matanya.
Leira menatap Nayla, Tangisannya semakin menjadi jadi ketika menatap Nayla.
“Maafkan aku Nayla” Lirih Leira sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Nayla mengangguk, Tersenyum. Lalu memeluk Leira, diikuti Vivi dan Adisha.
Cerpen Karangan: Nasywa Zaaidah

salam perpisahan

Salam Perpisahan Untuk Sahabat

Judul Cerpen Salam Perpisahan Untuk Sahabat
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen PenyesalanCerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 February 2017
“Mulai sekarang kita bukan teman lagi…”
“Tapi vin…”
“Nggak ada tapi-tapian, kamu tahu kan haru harusnya aku yang berdiri di sana bukan kamu” kata vina dengan angkuhnya, padahal selama ini ia dan haru adalah teman baik.
“Vina dengar aku dulu… Ok, aku memang salah tapi kan nggak ada salahnya kalau tahun ini aku yang tampil mewakili kelas kita.”
“Apa kamu bilang? Nggak ada salahnya? Hello… Ngaca dulu haru itu tempat aku kenapa harus kamu yang ada di sana, pokoknya mulai sekarang kita bukan teman lagi. Dasar pengkhianat.” kata vina berlalu meninggalkan haru.
Dengan langkah gontai haru pulang ke rumah, dalam perjalanan ia selalu membayangkan kata-kata vina “pengkhianat” benar.. Vina memangilnya demikian. Jadi ia harus apa? Ia memang mengambil posisi vina yang seharusnya menjadi wakil kelas dalam festival sekolah, terus apa itu salah? Kenapa harus vina yang selalu tampil padahal mereka sudah berteman lama tapi hanya karena hal kecil itu vina melepaskan persahabatan mereka. Hah… Ini menyebalkan.
Sesampainya di rumah haru menemui ibunya yang sedang memasak.
“Dah pulang toh.. Kenapa nggak salam tadi” kata ibunya seraya memandang wajah haru yang kelihatannya kusut sekali, dengan khawatir ibunya menghampiri haru.
“Apanya yang sakit nak? Kita ke dokter sekarang ya”
Haru menggeleng seraya terseyum lemah.
“Kamu kan dah janji sama ibu nggak bakalan sakit lagi tapi kenapa kamu kayak gini nak, kau lupa minum obat atau telat makan siang tadi?”
“Nggak bu… Haru cuma merasa sakit tapi nggak tahu sakitnya dimana. Padahal nggak ada lukanya, nggak ada darahnya” kata haru yang sudah tak bisa membendung airmatanya lagi, ia menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya. Ibu yang melihatnya hanya mampu mempererat pelukannya.
Ibunya tahu bahwa sekarang putrinya pasti sedang sakit hati, selama ini ibunya selalu berusaha berbuat yang terbaik untuk haru karena ia tahu bahwa putrinya ini tak punya banyak waktu lagi, ia sakit, putrinya ini sedang sakit.. Tidak ia sudah lama sakit dan menderita tapi kenapa sekarang ada orang yang tega membuat hati putrinya ini terluka tak tahukah mereka bahwa putrinya ini sudah lama terluka sampai tak ada lagi yang tersisa dari diri kecuali tatapan kesakitan dan kesedihan? Siapa.. Siapa yang tega? Batin ibu haru, airmatanya tak lagi mau berhenti memlihat kondisi putrinya. Ia hancur
Tak lama kemudian, haru tak lagi tampak disekolah. Sebenarnya vina ingin meminta maaf pada haru, waktu itu ia begitu emosi namun, setelah menenangkan diri selam beberapa hari ini ia sadar bahwa tak seharusnya ia berbuat demikian. Mereka sudah lama berteman, dengan penuh senyum vina melangkahkan kakinya menuju rumah haru, karena hari ini pun haru tak datang ke sekolah.
Setelah menekan bel beberapa kali dan tak ada respon, vina mulai menelepon haru tetapi tak ada jawaban sama sekali dan anehnya telepon haru sepertinya berada di luar negeri. Dengan dahi berkerut vina melangkah keluar dari pekarangan rumah haru. Baru saja ia ingin menelepon haru, ia ditegur oleh tetangga haru.
“Cari siapa dek?”
“Ini bu.. Orang yang tinggal di sini ke mana ya bu?”
“Oh.. Kan sudah balik ke jepang”
“A..Apa.. Bu balik ke jepang?”
“Iya.. Kan haru sakit parah. Adek nggak tahu? Katanya sih. Haru dah lama sakitnya dan belakangan ini makin parah, nggak ada harapan lagi jadi dibawa balik ke jepang ke tempat neneknya. Gosipnya biar dia tenang sebelum meninggal”
Mendengar penjelasan ibu barusan vina tiba-tiba berlari. Mana mungkin… Mana mungkin… Haru… Anak itu… Ahhh… Nggak mungkin.
“Haru…” vina berteriak frustasi
Tiba-tiba ia ingat semua kenangannya dengan haru.
“Aku boleh minta satu permintaan nggak sama kamu?” kata haru dengan wajah sumringan
“Boleh.. Semua yang kamu minta pasti aku kasih” balas vina kala itu
“Boleh nggak aku yang…” kata-kata haru terhenti karena bel istirahat berbunyi
“Kamu bilang apa tadi?” kata vina
Haru menggeleng dan menuntun vina ke kantin.
Vina mencoba mengingat permintaan haru, kepalanya mulai terasa sakit, matanya terasa panas karena airmatanya terus menetes. Hingga akhirnya ingatan itu muncul.
“Tampil di festival” dan bahkan saat vina tak mendengarkan permintaan haru waktu itu, haru tetap meminta vina jangan marah padanya karena hanya vina.. Hanya vina sahabat yang ia punya.
Penyesalan itu pun muncul, keegoisan telah menutup matanya membuatnya tak bisa lagi berpikir jernih, ia membuang sahabatnya hanya karena masalah kecil dan itu adalah ia. Masalah itu ia sendiri yang menyebabkannya.
“Haru maafin aku.. Aku salah.. Kamu harus balik.. Kamu harus marahin aku karena aku sudah salah sama kamu. Haru aku mohon balik..” vina terus menangis dan menyesali perbuatannya.
Haru sahabatnya menderita karena ia dan itu pun disaat ia sudah sangat menderita. Dan lagu itu.. Lagu yang dinyanyikan haru di festival sekolah, itu untukku, mungkinkah itu salam perpisahan?
Penyesalan memang selalu datang terlambat karena itu sebelum bertindak kita harus memikirkan dampaknya untuk kita maupun untuk orang lain.
Cerpen Karangan: Mutiara Sinaga

termanis

Perpisahan Termanis

Judul Cerpen Perpisahan Termanis
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen PerpisahanCerpen PersahabatanCerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 February 2017
Hujan deras telah membasahi sekumpulan anak yang sedang bercanda gurau di taman dan sedang menunjukkan kebebasannya itu, mereka bernama Lina, Wina, Ifah, Jihan dan Zahra. Mereka telah bebas dari soal soal ujian kemarin, dan akan berakhir masa SD nya itu. “Yeeahh akhirnya ujian selesai jugaa..” kata Wina dengan perasaan gembira. “Bebas juga dari semuanya.. Yeehhh kita bisa main sepuasnya nggak ada lagi belajar belajar kaya dulu.. Hahahaa…” sahut Lina “ahahahaaa aku seneeng banget.. kita bisa kaya gini lagi sekarang.. Sampe sampe kita basahh semuanya” kata Jihan. “Eeh tapi tunggu deh” tiba tiba zahra menghentikan kegembiraan saat itu. Semua termenung seketika dan berfikir. “Setelah ini apa kita bisa kaya gini lagi? Kita ini udah pisah setelah ini, kenapa malah pada seneng? Apa kalian bahagia kalo kita semua pisah?” kata Zahra dengan perasaan kesal. Lalu Jihan menjelaskan “Maksud kita bukan kaya gitu Zah, kita cuma lagi bebas karena ujiannya udah selesai sekarang” dan Lina menyambungkan “Iya zah kalo kita pisah kita juga nggak bakalan lupa sama semuanya, suatu saat kalo udah pisah, kita bisa kaya gini lagi. Tenang zah”. “Aku takut kehilangan kalian, aku takut nggak punya temen kaya kalian lagi, aku takut kalian semua bakalan ninggalin dan nglupain aku. Aku takut sama semuanya. Hiiks.. Hiiks..” kata Zahra. Seketika suasana gembira itu menjadi suasana haru dan menyedihkan. “Zahra kita janji setelah kita pisah kita bakal selalu inget sama kenangan kita, kita nggak bakalan ngelupain kamu, jadi jangan sedih lagi yah..” kata ifah. Dan mereka memeluk zahra dan menghapus air mata kesedihan Zahra.
Hari demi hari pun sudah dilewati mereka, saat ini pengumuman hasil ujian mereka telah diumumkan. Mereka telah merencanakan bertemu di taman setelah mengambil pengumuman ujian. Dan sekarang mereka sedang berkumpul di taman itu.”hay guyss.. Sorry telat” sahut Jihan yang datang paling akhir. “Iya nggak papa sini duduk” kata Ifah. “Ooh iya berapa nem kamu Fah?” tanya Lina. “Aku dapet nem 25,2 yah lumayan lah, kalo kamu?” “Aku dapet 24,7 hehe.” kata Lina, dan lina bertanya “kamu berapa zah?” “hah? Aku? Aku dapet 24,0, hehe ih paling jelek aku sendiri tau, kalo kamu Han?” Zahra bertanya kepada Jihan “kalo aku sih 26,6” kata Jihan. “Ciee gede sendiri nemnya. Aku kasih hadiah mau?” Kata ifah. “Biasa aja lah.. Mau dong, mana hadiahnya?”. “Hadiahnya ucapan selamat yah udah dapet nem gede ahaha..” ledek Ifah. “Iih sebel deh kirain juga hadiah beneran.” jawab jihan. “Ahahaha..” mereka menertawakan jihan bersama sama.
Beberapa hari kemudian, hari perpisahan pun tiba. Semua bersiap siap untuk acara tersebut. Mereka berkumpul di salah satu ruangan untuk mempersiapkan acara itu. “Oke anak anak, kalian udah siap kan, udah hafal semua lagunya, udah hafal urutannya kan?” tanya salah satu bu guru. “Iya bu guru.” jawab kami bersama sama.
Acara pun dilaksanakan berbagai lagu dinyanyikan seperti lagu hymne guru dan terima kasihku, dan lain lain. Dan salah satu siswa mewakili untuk membacakan kata perpisahan.
Untuk Teman
Teman, sudah saatnya kita berpisah
6 tahun telag kita lalui bersama
Suka duka telah kita rasakan bersama
Banyak kenangan yang indah bersamamu teman
Tolong maafkan semua kesalahanku teman
Jangan lupakan aku dan jangan lupakan kenagan kenangan indah kita teman.
Jadikanlah perpisahan ini menjadi perpisahan yang termanis.
Terima kasih teman untuk segalanya.
Ini kunyanyikan lagu perpisahan termanis untuk kalian semua
Jadikan ini perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu sepanjang waktu
Semua berakhir tanpa dendam dalam hati
Maafkan semua salahku yang mungkin menyakitimu…
Selamat tinggal teman
Perpisahan ini menjadi Perpisahan Termanis…
TAMAT
Cerpen Karangan: Fatimatuz Zahra

cerpen

Kebersamaan

Judul Cerpen Kebersamaan
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 February 2017
Kring… kring… kring… bel istirahat berbunyi nyaring. Anne masih ragu untuk ke luar dari kelas dan pergi ke kantin. Anne tetap duduk di tempat duduknya sambil membaca novel.
“nggak ke kantin?” tanya seseorang dari depan Anne, Anne memalingkan pandangannya dari novel yang sedang ia baca “makasih…” jawab Anne singkat, “alah… palingan takut jatuh… hahaha” ejek laki laki yang sedang berdiri di depan pintu kelas bersama teman temannya. “minggir… ganggu jalan aja lo” seorang laki laki masuk dan duduk di samping bangkunya Anne. Ya itu adalah Ray. Dia meletakkan sekaleng minuman di meja Anne dan kembali ke luar kelas “makasih…ya” Anne berdiri dari tempat duduknya, Ray hanya mengangguk dan pergi berlalu.
Kring… kring… kring… bel istirahat menghentikan semua kesenangan murid murid. Sekitar 2 menit kemudian mrs. Farah masuk sebagai guru pelajaran matematika. Pelajaran kali ini cukup sulit, tampak dari wajah murid murid sangat jenuh. Tapi tidak dengan Anne, karena di sekolah lamanya dia adalah murid terpandai dan menguasai semua mata pelajaran.
Kring… kring… kring… bel kembali berbunyi nyaring, tapi kali ini semua murid bersorak gembira karena ingin pulang atau keluar dari kelas.
Anne pulang menaiki bus sekolah karena kedua orangtuanya sibuk bekerja. Dia menaiki bus dan mencari bangku yang masih kosong. Terlihat Ray sedang melamun melihat keluar dari kaca bus. Anne menghampirinya “apa aku boleh duduk di sini?” tanya Anne dengan hati hati “silakan… duduk saja” jawab Ray singkat dan kembali melihat keluar melalui jendela.
Perjalanan menuju rumah Anne cukup lama. Sekitar 20 menit berada di dalam bus akhirnya sampai juga di depan perumahannya. Ray turun terlebih dahulu dan diikuti oleh Anne dari belakang. Anne terus berjalan menuju rumahnya di belakang Ray. Ray menoleh ke belakang dan melihat Anne sedang mengikutinya. “apa kau mengikutiku?” tanya Ray sambil mengerutkan keningnya “tidak… rumahku di sana, di depan rumahmu” Anne tertunduk dan mempercepat langkahnya masuk ke dalam pagar rumah.
Di dalam kamarnya, Anne terus tersenyum senyum melihat ke luar jendela. Dia melihat Ray sedang bermain dengan anjing berwarna putih di taman rumahnya. Semuanya tampak jelas karena kamar Anne yang terletak di lantai 2. Apakah Anne sedang jatuh cinta? Ya Anne tampak menyukai Ray dari pandangannya.
Keesokan paginya, setelah berpakaian, Anne melihat ke luar jendela. Ya dia menunggu Ray keluar dari rumahnya. Tepat saat ia melihat ke jam kamarnya yang pukul 06.33, Ray keluar dari dalam rumahnya dengan rapi. Dengan sigap, Anne turun ke bawah dan meminum susu hangat buatan mamanya “ma… pa… Anne pergi dulu ya…” Anne berpamitan sambil berlari. Anne mengikuti Ray dari belakang. Dia berjalan dengan santai tanpa melihat ke arah Ray. Setelah sampai di depan gerbang perumahan, Ray menghentikan langkahnya. Anne yang tidak sadar bahwa Ray telah berhenti, tanpa sengaja ia menabrak Ray yang sudah berdiri di depannya. Anne terjatuh. Ray menolongnya untuk berdiri kembali. Setelah itu mereka berdua menunggu bus datang untuk membawa mereka ke sekolah.
Di kelasnya, Anne tampak serius dalam belajar. Ia sangat cerdas dalam menyelesaikan soal sehingga guru guru menjadi sayang kepadanya. Hari ini sekolah Anne pulang lebih awal karena guru guru yang mengajar ada rapat penting. Anne kembali menaiki bus, kali ini ia tak mau duduk bersama Ray karena takut kalau dianggap bukan kebetulan. Anne lebih memilih duduk di depan Ray. Bus mulai melaju, tak diduga Ray telah duduk di sampingnya. Ray sedang sibuk menulis atau bisa disebut mencoret coret di sebuah buku yang sangat tebal. Seperti biasa, 20 menit kemudian bus berhenti di depan perumahan Anne dan Ray. Ray turun terlebih dahulu dan di ikuti oleh Anne. “terima kasih pak…” kata Anne ramah dan disambut oleh pak sopir dengan senyuman hangat. Selama di perjalanan menuju rumah, Anne dan Ray tidak ada saling berbicara. Masing masing masuk ke rumah tanpa berkata sepatah katapun.
Seperti biasa, di dalam kamarnya Anne memandang Ray lewat jendela. Ray bermain main dengan anjing di taman rumahnya. Kali ini Anne menulis di sebuah kertas “lagi apa?” Anne membaca kembali tulisannya dan melipat kertas tersebut menjadi pesawat mainan. “mudah mudahan sampai…” Anne mengucapkan harapannya sambil menerbangkan pesawat kertasnya ke luar jendela. Tepat sekali… pesawat kertas yang dibuat Anne mendarat mulus di dekat kaki Ray. Ray mulai membuka lipatan kertas dan membacanya. Setelah itu Ray melambaikan tangannya ke arah Anne. Anne sangat bahagia dan turun ke lantai bawah. Dia memakai sandal dan berlari kecil menuju rumah Ray yang tepat di depan rumahnya.
“ayo… buka saja pagarnya, tidak dikunci” kata Ray sambil menghelus helus anjing kesayangannya. Anne ikut bermain dengan anjingnya Ray. Setelah itu mereka duduk di ayunan yang ada di taman rumah Ray. Ray mengeluarkan ponselnya dan mengajak Anne untuk foto berdua. Cukup banyak foto yang mereka ambil. “kamu sudah lama tinggal di sini?” tanya Anne memperhatikan rumah Ray “tidak… 2 hari sebelum kamu pindah” kata Ray dengan memperhatikan Anne. Anne sangat malu diperhatikan, hingga membuatnya jadi salah tingkah “ada apa? apa yang kamu perhatikan?”
“tidak. Hanya saja aku aneh dengan tingkah lakumu”
“aneh bagaimana? Aku normal, kok”
“ah sudahlah, jangan bahas itu lagi SAHABAT”
“SAHABAT? oh ya… maafkan aku, aku harus pulang. Sebentar lagi mama dan papaku pulang” Anne berlalu keluar dari pekarangan rumah Ray.
Keesokan paginya, seperti biasa Anne menunggu Ray keluar dari rumah. Anne melihat ke arah jam yang menunjukan pukul 06.33. Ray keluar dari rumahnya dan Anne mengejar Ray keluar. Saat di depan pagar rumahnya, tangan Anne dipegangi oleh seseorang. “kamu menunggu aku ya…” ternyata Ray yang memegangi Anne, Anne hanya terseyum malu. Mereka berjalan menuju gerbang perumahan dan naik bus bersama.
Anne sendirian keluar dari kelasnya. Segerombolah laki laki yang pernah mengejek Anne menghadangnya untuk lewat. Mereka mendorong Anne hingga tersungkur ke tanah. Ray datang untuk menolong Anne dan membantunya untuk berdiri. “untuk apa lo gangguin Anne, hah?” Ray marah kepada gerembolan itu dan mereka berdua pergi naik bus. Di dalam bus Anne meringis kesakitan karena lututnya memar. “tenang aja Anne, aku selalu ada untuk kamu, kok. Jangan nangis lagi, nanti aku juga nangis lho” Ray berusaha untuk menenangkannya dan mengantarnya ke pintu rumah Anne.
Walaupun kakinya sakit, Anne tetap melihat ke luar jendela. Tapi Anne tidak melihat Ray sedang bermain main dengan anjing kesayangannya. Anne terus menunggu hingga larut malam, tapi Ray tidak juga menampakkan dirinya walau hanya sebentar. Anne tidur dengan perasaan cemas.
Keesokan paginya, seperti biasa Anne menunggu Ray untuk keluar dari rumahnya. Saat melihat ke luar jendela, betapa terkejutnya Anne melihat orang orang berdatangan ke rumah Ray. Anne segera turun ke bawah dan bertanya kepada orangtuanya. Tapi kedua orangtuanya tidak tahu tentang rumah Ray yang menjadi ramai. Karena penasaran, Anne langsung pergi ke rumah Ray tanpa mempedulikan ia akan terlambat ke sekolah.
“RAY…” teriak Anne saat melihat Ray terbujur kaku di tengah rumah yang sangat besar dan bertingkat, yaitu rumah Ray. “kamu Anne, bukan?” tanya seorang wanita yang sepertinya ibunya Ray “iya tante, aku Anne” Anne menghapus air matanya yang berjatuhan “ini ada kado untukmu dari Ray. Dia kecelakaan saat ia pergi membeli kado ini. Di rumah sakit dia juga berpesan untuk memberikannya kepada gadis yang bernama Anne” ibunya Ray menangis sambil masuk ke dalam rumah. Anne yang tak kuasa membendung tangisnya berlari menuju rumah dan di antar ke sekolah oleh papanya menggunakan mobil pribadi.
Di sekolah, Anne hanya termenung memikirkan Ray yang kecelakaan karena dirinya. Pada saat jam istirahat Anne mulai membuka kado dari Ray. Di dalam bungkusan itu, Ray memberi Anne kalung berliontin hati yang bisa dibuka, foto mereka berdua dan selembar kertas. Anne membuka liontin kalung pemberian Ray, terlihat di bagian kanan foto Anne dan di bagian kiri foto Ray. Anne juga membaca surat dari Ray.
“Anne. Happy Birthday, ya… semoga umur panjang, sehat selalu. Anne, mungkin waktu kamu baca surat ini, aku udah nggak ada lagi. Kamu jangan nangis. Ingat kata kataku TENANG AJA, ANNE, AKU SELALU ADA UNTUK KAMU, KOK. JANGAN NANGIS LAGI, NANTI AKU NANGIS JUGA LHO. Dan satu lagi, aku ingin kamu tahu, kalau aku itu sahabatmu. Tapi aku juga mau kalau kamu itu adalah kekasihku, pacarku, aku menyukaimu, Anne. Tapi itu semua sudah terlambat. Oh ya… aku memberikan kado ini untuk ulang tahunmu. Kamu pasti bertanya dari mana aku tahu? Aku tahu dari papamu yang ingin membuat kejutan untukmu di hari ini. Kamu pasti membuka kadonya di hariku meninggal, di hari ulang tahunmu. Anne ingat aku ya… sahabat pertamamu di sekolah dan di perumahan baru. Jangan pernah menyesali kematianku ya, apa yang telah terjadi. Anne… sering seringlah bermain dengan Pifsy anjing kesayanganku ya… Bye Anne. I LOVE YOU…” Anne membacanya penuh haru. Air mata Anne tumpah membasahi surat yang sedang dibacanya.
“Anne, gue turut berduka cita ya, atas kepergian Ray. Ray pernah bilang kalau dia naksir sama lo. Dia suka sama lo, Anne” kata laki laki yang pernah mendorong Anne. Gerombolan laki laki itu pergi meninggalkan Anne sendirian di kelas. Suasana sangat hening.
Beberapa tahun kemudian, terlihat di meja kantor Anne, fotonya dan Ray. Ya sekarang Anne telah bekerja di salah satu perusahanan yang ternama di kotanya. Setelah Anne pulang dari kantornya, ia singgah ke depan rumahnya, yaitu rumah Ray. Ia bermain bola bersama Pifsy sang anjing kesayangan Ray. Anne melihat arloji yang melingkar di tangannya yang telah menunjukan pukul 18.00. Anne pulang ke rumah dan mandi. Selepas mandi, Anne melihat fotonya bersama Ray terpajang indah di samping tempat tidurnya dan juga terpampang foto besar Anne dan Ray juga bersama Pifsy sang anjing putih, bergandengan tangan di ayunan taman rumah Ray. Anne menghelus helus foto besar tersebut dan pergi melihat keluar jendela “I LOVE YOU, RAY…” Anne menggenggam sekaleng minuman pemberian dari Ray dulu dan melambai lambaikan tangannya kepada Pifsy yang menggonggong kepadanya…
Cerpen Karangan: Afifah Huriyah

si penghapus kecil

Si Penghapus Kecil

Judul Cerpen Si Penghapus Kecil
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 17 February 2017
“Abduh…, bunda pergi ke mall dulu, yaa…, kamu mau ikut enggak?” Tanya bunda.
“ikut…” jawabku.
“kalau begitu, sekarang juga kita ke sana!” kata bunda.
“oke!” sorakku.
Setelah berada di dalam mal, tak sengaja, aku melihat ke hadapan toko alat tulis, aku juga melihat, di sana terdapat pensil, penghapus, serutan, penggaris dan lain sebagainya.
“bun…, boleh, nggak, aku membeli satu saja penghapus, kan, penghapusku hilang semua!” mohonku.
“hmm…, bagaimana ya?, boleh, deh!” kata bunda membolehkan.
“makasih, ya bun!, bunda memang ibu terbaik sedunia!” gumamku. Bunda hanya tersenyum melihat tingkahku.
Setelah aku dan bundaku berada di dalam toko alat tulis, aku mengambil satu buah penghapus yang ukurannya agak besar.
“bunda, aku ingin membeli yang ini!” pintaku seraya menunjukkan penghapus yang kupegang.
“oke!, akan bunda belikan!” katanya membolehkan.
Setelah aku dan bunda membayar penghapusnya, aku dan bunda langsung pulang sesudah bunda berbelanja.
Esok paginya…
Setelah aku mandi, aku menyiapkan pelajaran, alat tulis, termasuk penghapus baruku.
“saatnya aku makan!!” seruku.
Lalu, aku turun ke bawah untuk sarapan bersama keluargaku.
Setelah aku berada di sekolahku yang bernama sekolah Muslim berakhlak, aku menggantungkan tasku di kursiku, dan membaca buku KKPK yang kubawa dari rumah untuk menunggu bell masuk.
TET..!!, TET..!!, TET..!! Bell masuk terdengar nyaring, semuanya duduk rapi karena ibu guru akan datang.
Setelah semuanya membaca do’a, ibu guru berkata, “anak anak, ambil buku paket dan alat tulis kalian masing masing!, kita akan belajar Matematika.”
“oke, bu!!” seru murid murid kelas 3-C, termasuk aku.
Semuanyapun mengeluarkan buku paket dan peralatan menulis masing masing.
“oke, semuanya, ibu menyuruh kalian untuk mengerjakan halaman 22!, ibu ingin pergi ke toilet, dulu…” kata ibu guru memberi tau.
Saat aku membuka tempat pensilku, aku terkejut melihat penghapusku terbelah menjadi dua bagian, yang satu kecil, yang satunya lagi kecil.
“lho, penghapusnya kenapa bisa jadi begini?” tanyaku kepadaku sendiri.
Tiba tiba, Alif, temanku, menghampiriku seraya berkata, “Abduh, boleh gak, aku meminjam satu penghapusmu?” tanyanya.
“nih, silahkan dipinjam!, pulang sekolah, dikembalikan, lho!” kataku mengingatkan sambil memberikan satu dari penghapus yang telah terbelah menjadi dua.
“makasih, ya, Abduh!” ucapnya. Aku hanya tersenyum.
Pulang sekolah…
“Alif, penghapusku mana?” tanyaku.
“hi… hilang!” jawabnya cepat.
“kok, bisa?” tanyaku lagi.
“yang pas itu, aku sedang menghapus tulisanku yang salah, lalu, dengan tidak sengaja, aku menyenggol penghapusmu yang kutaruh di sisi mejaku dan penghapusnya terjatuh entah kemana, maaf, ya!” jelasnya, dan dia meminta maaf.
“ya, kumaafkan!, tapi, jangan diulangi lagi ya!” ingatku.
“oke!” jawabnya.
Sudah berhari hari aku memakai penghapus kecil itu sehingga aku jarang menghapus melainkan meminjam ke temanku. Kalau saja, penghapusku tidak terbelah, dan juga tidak dipinjam sama Alif, pasti penghapusku masih agak kecilan, dan masih bisa terpakai, dan kini nasi menjadi bubur!, penghapusnya bertambah kecil, sekecil… apa ya?, pokoknya kecil, deh!.
“bun… boleh aku dibelikan penghapus yang lebih banyak lagi?” tanyaku.
“boleh!, asalkan saat hari minggu!” jawab bunda. Aku hanya mengangguk mengerti.
Setelah penghapus itu kecil banget, pikiranku aneh, aku sengaja menguburnya supaya penghapusnya masuk surga. Memangnya ada apa?, benda masuk surga? Yang pastinya nggaklah!, aku Cuma sayang sama penghapusnya!, hahaa.., pikiranku memang setengahnya cerdas, dan setengahnya tidak!, hehehe…
Kini, aku mempunyai banyak penghapus, tapi… aku masih ingat dengan kuburan penghapus kecil lho… hehehe
Cerpen Karangan: Ukasyah Ammar Robbani

sapu penyihir

Ketika Sapu Penyihir Jahat Patah

Judul Cerpen Ketika Sapu Penyihir Jahat Patah
Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen AnakCerpen Fantasi (Fiksi)Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 February 2017
Di pulau Saman terdapat panti asuhan yang bernama Panti asuhan kurcica, dinamakan kurcica karena, pulau saman ditinggalkan oleh Kurcaci.
Anak-anak di panti asuhan kurcica diantaranya adalah, Razen, seorang kurcaci lelaki berbadan kurus yang hobi makan sayuran, dan kulitnya berwarna biru, Yoyo, seorang kurcaci lelaki berbadan kurus yang hobi berolahraga, dan kulitnya berwarna hijau, Bobi, seorang kurcaci lelaki berbadan gemuk yang hobi makan lemak, dan kulitnya berwarna abu-abu,
Ashira, seorang kurcaci perempuan berbadan kurus yang hobi berdandan, dan kulitnya berwarna merah muda, Sasya, seorang kurcaci perempuan berbadan agak gemuk yang hobi membaca buku, dia memakai kaca mata, dan kulitnya berwarna ungu.
Dan yang mengadopsinya adalah sepasang suami istri yang bernama Pak Stefan, dan Bu Raina yang tidak bisa mempunyai anak, dan mengadopsi kelima anak yang kehilangan ayah dan ibu.
Di siang hari yang cerah, para kurcaci lelaki, kecuali Pak Stefan memancing di tepi pantai yang luas sekali, sedangkan kurcaci perempuan, kecuali Bu Raina hanya menontonnya saja. Pak Stefan, dan Bu Raina berbelanja makanan di supermarket.
“yeaaahhh..!!!, dapat ikan besar…, wah.. bisa bisa, nanti kita makan besar nihh..!!” sorak Razen penuh semangat.
“wah.. Razen ternyata hebat ya …!” puji Ashira dengan senyuman manis. Razen malu.
“Eh, iya …, Razen hebat..!” Sasya ikutan memuji Razen.
“ah, iya!, Razen hebat! Bisa mengalahkanku!, aku saja baru dapat satu ekor ikan kecil kecil, sedangkan Razan, hanya mendapatkan satu ekor ikan tapi besar! Wah.. keren ya, Razen..” datang lagi pujian dari Yoyo. Razen bertambah malu.
“Wah, aku saja belum dapat seokor pun ikan.., Razen hebat..!!” puji Bobi.
“Ah, kalian ini ada ada saja.. aku jadi malu nih..!!” Razen malu.
Tiba Tiba…
“Hei, teman teman!, sepertinya, aku akan mendapatkan ikan besar!” sahut Bobi girang.
“Ah, masa sih?” Tanya Ashira.
Lalu, Bobi menarik pancingannya sekuat tenaga, dan… “teman teman, aku mendapatkan ikan yang lebih besar dari ikan Razen!!” mata Bobi berbinar binar ketika melihat ikan besar yang dipancingnya.
“Wah… benar! Bobi mendapatkan ikan yang lebih besar dari Razen! Keren..!” puji Ashira, Bobi malu mendengar pujiannya.
“Wah, iyaa.. bobi he..” kata kata Sasya terpotong oleh Razen,
“Ah, biasa saja! Pasti aku akan mendapatkan ikan yang lebih besar! Huh!” ucap Razen sombong. Semuanya hanya bingung.
Sudah berjam jam, Razen tidak mendapatkan satu pun ikan yang lebih besar dari ikan yang didapatkan Bobi.
“Mana ikannya?, katanya, akan mendapatkan ikan yang lebih besar dari Bibo! Yah.. kamu tidak bisa! Hahaha..!!” ejek Yoyo, sampai sampai, membuat muka Razen memerah, yang ingin marah.
“Diam!” seru Razen marah. Lalu, Razen kembali ke panti.
“Hei, teman teman, aku pernah diberi tau pak Stefan, kalau, di dekat pulau saman yang kita tempati ini, terdapat rumah Penyihir jahat!, kata pak Stefan, dia penculik anak kurcaci yang mudah marah, seperti yang dilakukan oleh Razen!, apa jangan jangan.. Razen akan diculik Penyihir jahat!!” jelas Yoyo panjang lebar.
“Hei!, jangan bicara yang enggak enggak deh!” tegur Ashira.
Tiba tiba..
“Toloooonggg!!!, toloooonggg!!!,” suara teriakan dari panti asuhan kurcica, terdengar sampai tepi pantai yang luas, tepatnya, tempat memancingnya anak anak kurcaci yang tinggal di panti asuhan kurcica.
“Eh, suara teriakan siapa itu? Sampai terdengar sampai di sini!” ucap Sasya.
“Iya! Berisik!, tapi, suaranya, berasal dari rumah panti!” seru Yoyo.
“Ya sudah, kalau begitu, bagaimana kalau kita selidiki bersama sama?” ajak Bobi.
“Setuju!!” seru semuanya kecuali Bobi.
Setelah mereka sampai di panti asuhan kurcica, mereka mengintip di pintu kamar Razen dan melihat, mulut Razen dibekap oleh nenek tua yang sangaat jelek, dan dibawanya ke luar melewati jendela memakai sapu terbangnya.
“Hei teman teman, nenek tua itu siapa?” Tanya Ashira.
“Aku tidak tahu!” seru semuanya, kecuali Yoyo.
“Sepertinya, aku tahu!” ucap Yoyo.
“Lalu, siapa dia?” Tanya semuanya.
“Hmm.. Penyihir jahat!” jawab Yoyo.
“Hmm.. sepertinya benar juga apa yang Yoyo katakan!” seru Bobi meyakinkan.
“Iya!, kita harus menolongnya!” ujar Ashira. Sasya hanya mengangguk.
“Apakah kita harus memberi tahu masalah ini kepada pak Stefan dan bu Raina?” Tanya Yoyo.
“Hmm.. sebaiknya jangan!” ucap Bobi.
“Eh?, mengapa bisa begitu?” Tanya Semuanya.
“Kalau kita menolongnya Razen bersama, tidak ada salahnya, kan?, lalu, bila kita berhasil menolong Razen, itu berarti, kita akan menjadi… PAHLAWAN CILIK..!!” jawab Bobi.
“Ah, benar juga!” seru semuanya.
“Yoyo, apakah kamu mengetahui ciri ciri, dan alamat penyihir jahat?” tiba tiba, Bobi bertanya kepada Yoyo
“Hmm.. aku tidak mengetahuinya…” jawab Yoyo seraya menundukkan kepalanya.
“Lalu, bagaimana kita akan menolong Razen?” Tanya Sasya.
“Pasti ada petunjuknya!” ucap Ashira.
“Oh, iya!, kita cari saja buku tentang penyihir di perpustakaan! Sepertinya ada!” seru Yoyo.
“Tuh, kan, ada petunjuknya!” ucap Ashira. Semuanya kesal melihat tingkah laku Ashira. “Eh, maaf teman teman ..”.
Mereka pun menuju ke perpustakaan yang tersedia di panti. Sesampainya di sana, semuanya langsung mencari buku tentang penyihir.
Ditengah tengahnya mencari, Yoyo menemukan buku yang berjudul… pe..nyi..hir.., ya!, penyihir!, “hai, teman teman! Aku menemukan bukunya! Lihat ini!”
“Coba lihat!” ucap semuanya, dan langsung menghampiri Yoyo.
“Wah.. iya! Coba kamu bacakan yang keras!” suruh Bobi kepada Yoyo.
“Oke, aku mulai!, penyihir jahat itu suka sekali menculik anak anak kurcaci yang mudah marah, setelah menculiknya, dia mengadopsi anak kurcaci yang dia culik dan diberi kejahatan di tubuhnya. Penyihir jahat mempunyai kekuatan dari sapu terbangnya, siapa yang bisa mematahkan sapu itu dikatakan dia anak yang sangat berani!, ada lagi satu penyihir, namanya penyihir baik. Penyihir baik akan menolong anak anak kurcaci bila ada yang kesusahan, penyihir baik tidak suka sekali menculiik anak anak kurcaci melainkan menyayanginya. Aduh, teman teman, aku capek banget bacanya!, tolong ambilkan minum dong!” Yoyo sudah mulai lelah membacanya.
Bobi, segera ke dapur untuk mengambil minum untuk Yoyo yang sudah kenal lelah.
“Nih, minumnya!” seru Bobi sambil memberikan segelas air putih pada Yoyo.
“Makasih, ya, Bobi!, kamu baik sekali!” ucap Yoyo.
“Iya, sama sama!” seru Bobi.
Setelah minum, Sasya bertanya kepada Yoyo, “Hei, Yoyo, apakah di buku itu tertulis alamatnya?”
“Hmm.. sebentar, akan kucari!” jawab Yoyo.
Beberapa detik kemudian…
“Ah, ini dia alamatnya!, di pulau Arretta, di sebelah timur terdapat banyak rumah penyihir jahat!, Akhirnya, ketemu juga!, eh, di sini juga ada petanya! Akan kusimpan peta ini baik baik!” ucap Yoyo.
“Ayo, kita mempersiapkan diri untuk menjadi…” kata kata Bobi terpotong oleh Sasya, Ashira dan Yoyo, “PAHLAWAN CILIK..!!” “Hahahaha!!” tawa semuanya.
“Kita harus membawa kompas!” seru Yoyo.
“Ya, betul!, karena rumah penyihir di sebelah timur!” seru Ashira kemudian.
“Hei, teman-teman! Sebaiknya, kita menyamar menjadi penyihir jahat saja! Supaya, kita tidak diculik juga seperti Razen!” susul Bobi.
“Ah, benar juga apa yang dikatakan Bobi!” ucap Yoyo.
“Semuanya!, apakah kita mempunyai kostumnya? Penyihir jahat tadi itu memakai baju berwarna hitam!, apakah kita mempunyainya?” Tanya Sasya.
“Oh, iya!, bagaimana kalau kita meminta tolong pada bu Manih supaya bisa menjahit empat baju hitam?” Tanya Bobi.
Oh, iya!, kalian belum tahu bu Manih ya?, bu Manih itu, jago sekali dibidang menjahit di pulau saman ini!, dia itu agak tua, tapi awet muda lho!, umurnya saja sudah 40 tahun!.
“Ayo kita kumpulkan uangnya!” sahut Sasya.
“Ayo” ucap semuanya.
Mereka semua mengumpulkan uang masing masing sehingga uangnya banyak.
“Wah! Uang kita sudah terkumpul banyak!, coba, kita hitung dulu yuk!” ucap Ashira.
“Ayo!” jawab semuanya.
Setelah dihitung …
“Wah!, uangnya berjumlah empat ratus ribu!” sorak Yoyo.
“Iya!, jadinya, kita bisa beli…” kata kata Bobi terpotong oleh Sasya, Ashira, dan Yoyo, “kostum penyihir jahat!!!”
“Hahahaha!!!” tawa semuanya.
Setelah itu, mereka ke rumah bu Manih untuk membeli baju yang seperti penyihir jahat, dan yang pastinya, mereka membawa uang!.
Setelah sampai di rumah bu Manih, mereka mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh bu Manih.
“Hei, kalian siapa?” Tanya pu Manih kelupaan.
“Masa, bu Manih lupa dengan kami?” Bobi balik bertanya.
“Eh, memangnya, kalian siapa?” Tanya bu Manih lagi.
“Kami ini, penghuni panti asuhan kurcica…!” seru Yoyo.
“Ah, ibu ingat! Ini, Bobi, lalu yang ini Yoyo, terus, yang ini.. hmmm, siapa ya? Ah, ibu ingat!, ini Ashira, dan yang ini.. sa…, oh, iya! Sasya!” jawab bu Manih terbata bata. “Eh.. kok, yang satu lagi tidak ada, yang namanya… siapa ya? Oh iya! Mmm.. Razen mana ya? Kok, tidak kelihatan dari tadi?” Tanya Bu Manih kebingungan.
“Eh, itu bu.. anu.. hmm.. dia tidak ingin ikut, dia hanya ingin tidur di panti, hehe..!” ucap Yoyo berbohong.
“Oh, kalau begitu, mau apa kalian datang ke sini?” Tanya Bu Manih.
“Hmm, kita datang ke sini untuk membeli empat baju yang mirip seperti baju penyihir jahat” ucap Sasya.
“Untuk apa kalian membeli itu?” Tanya bu Manih.
“Hmmm, ki… kita, ingin menjelajah pulau Arretta!” ujar Bobi.
“Pulau Arretta? Apa itu?” Tanya bu Manih.
“Tempat pa.. para penyihir tinggal..” jawab Sasya.
“Oh, begituu.., kebetulan sekali!, bu Manih menjual pakaian penyihir jahat lho!” seru bu Manih.
“Ah, yang benar bu?” Tanya semuanya kecuali bu Manih.
“Iya, benar!, bajunya berada di sebelah sana!” seru bu Manih sambil menunjuk ke arah pintu yang entah menuju kemana, mungkin, baju baju para penyihir!.
“Yuk, kita masuk!” ajak bu Manih.
“Ayo!” seru semuanya serempak.
Setelah masuk ke pintu itu, benar saja, mereka menemukan banyak sekali baju penyihir, ada yang warnanya hitam dan.. putih!.
“Bu Manih, baju warna putih, baju penyihir apa?” Tanya Ashira terhadap bu Manih.
“Kalian tidak tahu? Baju yang berwarna putih itu, baju penyihir baik!” seru bu Manih.
“Oooooohh…!!” Yoyo, Bobi, Ashira, dan juga Sasya hanya ber-oh panjang.
“Nih, silahkan dibeli!” seru bu Manih sambil menunjukkan 4 baju penyihir jahat berwarna hitam.
“Oh, berapa harganya?” Tanya Yoyo.
“Harganya hanya 40 ribu!” jawab bu Manih.
“Ya sudah, bu, ini uangnya!” seru Yoyo sambil menyodorkankan uang lima puluh ribu.
“Oh, terima kasih!, nih, kembaliannya!” seru bu Minah sambil menyodorkankan selembar kertas uang sepuluh ribuan.
“Oke, bu, kita pulang dulu ya!” seru semuanya.
“Iya, hati hati di jalan ya…!” pesan bu Manih sambil tersenyum.
Setelah mereka sampai di panti asuhan kurcica…
“Hei, semuanya!, apakah kalian tidak sadar, kalau ke pulau arretta harus menyeberangi lautan yang sangat dalam?” kata Sasya memberi tau.
“Oh, iya!, jadi kita lewat apa dong, ke sananya?” Tanya Ashira pada semuanya.
“Hmmm…, bagaimana kalau kita menaiki perahu saja?” susul Yoyo.
“Tapi, kan, kita tidak mempunyai perahu!” seru Bobi.
“Hei, jangan salah dulu…, aku pernah diberi tahu bu Raina kalau, di sekitar gudang di panti ini, ada perahu, jadi, kita bisa menaiki perahu itu kan?” jelas Yoyo.
“Ah, yang benar?” Tanya semuanya.
“Ya, sudah, kalau tidak percaya, kita cek saja yuk!” ajak Yoyo.
Mereka pun menuju gudang untuk mengecek kalau saja ada perahu di dalamnya.
“Mana perahunya?” Tanya Bobi terhadap Yoyo.
“Hmm.., itu!” seru Yoyo seraya menunjuk ke arah perahu dan dayungnya.
“Ah, iya, benar!, yuk kita ambil!” seru Ashira yang tiba tiba menyelak Bobi dan Yoyo.
“Yuk kita ambil!” seru Sasya.
Mereka pun membawa perahunya bersama dan dayungnya dipegang oleh Yoyo karena dia yang paling terdepan.
Setelah sampai di tujuan, mereka menurunkan perahunya di lautan yang dalam itu.
“Hei, teman teman, sepertinya, perahu ini hanya cukup dua orang!” Yoyo memberi tahu.
“Hmm.., bagaimana kalau Yoyo yang mengantarkan kita semua bergiliran ke pulau Arreta?” Tanya Ashira pada semuanya.
“Ya aku setuju!” seru Sasya. Yoyo dan Bobi hanya mengangguk bertanda menyetujuinya.
Setelah mereka menyeberanginya, mereka berganti baju dengan menggunakan baju penyihir jahat.
“Waduh, bagaimana ini?, aku takut kalau kita diculik juga!” Bobi ketakutan.
“Tenang saja Bobi!, kita, kan, sudah menyamar!” Yoyo menenangkan Bobi. Ashira, dan Sasya hanya mengangguk.
Saat di tengah perjalanan mereka menemukan seorang penyihir jahat yang mirip penyihir yang menculik Razen.
“Hei, teman teman!, lihat penyihir itu!, bukankah itu mirip dengan penyihir yang menculik Razen?” ujar Bobi pelan.
“Ah, iya!, itu mirip sekali!, apakah penyihir itu yang menculik Razen?” ujar Yoyo pelan.
“Ya sudah, supaya kita tidak penasaran, bagaimana kalau kita buntuti saja?” Tanya Ashira pelan.
Semuanya mengangguk.
Saat ditengah membuntuti, penyihir jahat itu diam dan menoleh ke belakang. Para anak kurcaci segera bersembunyi supaya tidak dilihat oleh penyihir jahat.
“Hmm, tidak ada siapa siapa!” lalu penyihir jahat itu melanjutkan perjalanannya.
Setelah selesai membuntutinya, ternyata penyihir jahat ke rumahnya, yang tepatnya tempat disimpannya Razen oleh penyihir jahat.
“Hei, teman teman!, ternyata benar! Penyihir itu yang menculik Razen!, apa jangan jangan … Razen akan diberi kejahatan di tubuhnya setelah ini!, kita harus cepat cepat menolongnya!” Seru Yoyo.
“Adakah di antara kalian yang berani masuk ke dalam?” Tanya Yoyo. Semuanya menggeleng kepala.
“Ya sudah, deh, aku saja yang masuk!, semuanya masuk ke dalam rumah ini lewat pintu belakang! tapi harus diam diam lho!” ujar Yoyo. Semuanya mengangguk.
Setelah itu, mereka melakukan rencananya.
Tok! Tok! Tok! Yoyo mengetuk pintu rumah penyihir jahat.
“Ya ada apa?” terdengar suara nenek nenek yang tepatnya adalah panyihir jahat.
“Maaf nek, mengganggu!” ucap Yoyo gemetaran
“Oh, tidak sama sekali menganggu, kok, nak!” seru penyihir jahat.
“Oh, makasih ya nek!” Yoyo berterima kasih.
“Oh, iya, sama sama!, silahkan duduk dulu nak!” seru nenek tua itu.
“Wah, wah.. ternyata penyihir jahat itu mengira aku ini adalah anak penyihir jahat!, hahaha..!” tawa Yoyo dalam hati.
“Hei!, kok, malah bengong sih?, ayo masuk!” ajak penyihir jahat.
“Oh, iya nek…” kataku.
Setelah duduk, penyihir jahat itu bertanya, “Mau apa kamu ke sini nak?”
“Oh, aku di sini hanya ingin mengenal nenek lebih dekat..” ucap Yoyo.
“Oh, begitu…, oke, nenek beri tahu.., nenek ini adalah salah satu penyihir paling hebat di pulau Arretta ini, karena nenek mempunyai sapu terbang seorang diri, tidak ada yang mempunyai sapu terbang kecuali nenek, nenek bernama Tharta, nenek berumur 59 tahun, tapi, nenek tetap cantik, kan?” jelas penyihir tua, lalu bertanya.
“I… iya nek..” jawab Yoyo.
“Kamu sendiri namanya siapa, nak?” Tanya penyihir jahat ramah.
“Hmm.. nama saya Yoyo, nek!” jawab Yoyo cepat.
“Rumahmu di mana, nak?” Tanya penyihir jahat. Yoyo terkejut.
“Waduh, nek!, aku harus segera pulang sekarang!” seru Yoyo seraya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 16.00.
“Oh, ya sudah kalau begitu!, pulang saja!” setelah itu, Yoyo berpamitan, dan keluar dari rumah penyihir jahat.
Saat di luar rumah penyihir jahat, Yoyo melihat teman temannya sambil membawa Sapu terbang milik penyihir jahat, dan ada Razen juga!.
“Wah!, kalian mendapatkannya!, ayo cepat!, kita ke perahu!” seru Yoyo senang.
“Teman teman!, terima kasih ya, telah menyelamatkanku!” Razen berterima kasih pada teman temannya.
“Sudah, sudah.., berterima kasihnya nanti saja..” kata Bobi pelan.
“Ayo cepat, kita ke perahu!” seru Yoyo pelan. Semuanya mengangguk.
Semuanya menuju ke perahu untuk kembali ke panti asuhan kurcica.
Setelah sampai…
Mereka, kecuali Razen, berganti baju dengan baju biasanya.
“Wah…, kerja bagus teman teman!, lalu di mana sapu terbangnya?, sini, kupatahkan!” seru Yoyo.
“Nih, sapunya!” seru Sasya sambil memberikan sapunya ke Yoyo.
KRAK..!! sapu terbangnya telah dipatahkan!. “Yeaaayyy…, akhirnya patah juga!” seru semuanya kecuali Razen.
“Hei, Razen!, coba kamu ceritakan, apa yang dialamimu saat kamu diculik oleh penyihir jelek! Ups!, maksudnya, penyihir jahat!” pinta Yoyo terhadap Razen.
“Oh, jadi begini, saat itu, aku sedang tiduran di kamar, setelah itu, jendela kamarku terbuka, dan kulihat ada penyihir jahat itu!, setelah itu, dia membawaku ke rumahnya, lalu dia menaruhku di gudang yang sangat jelek, lalu, dia mengikatku di kursi, dan membekapku supaya aku tidak berisik, lalu, dia pergi untuk jalan jalan, setelah dia pergi, dia memberikanku minuman yang menurutku itu sangat berbahaya, jadi aku menolaknya, dan tiba tiba saja, pintu diketuk oleh seseorang yang ternyata Yoyo, penyihir jahat pun membukakan pintunya, tiba tiba saja, Bobi, Ashira, dan Sasya menemukanku dan sapu terbangnya, lalu mereka melepaskanku, dan langsung pergi membawaku dan juga sapu terbangnya, dan kita pulang…!!” cerita Razen panjang lebar.
“Oh, begituu…” ucap semuanya. Dan mereka langsung tertawa riang.
Sedangkan nasib penyihir jahat…
“DI MANA SAPU TERBANGKUUU??!!” Penyihir jahat berteriak dengan kencangnya. Teriakan itu seperti sedang gempa bumi!.
“Sapu terbangkuu…!! Kau di mana… dan anak kurcaci itu?! Dimana dia? Dia berhasil kabur!!” Penyihir jahat terkejut. Dan dia menangis, “Huhuhu… nasibku yang malang…”.
Penyihir jahat hanya bisa menangis dengan tangisan buatannya sendiri… Kasihan ya…
Cerpen Karangan: Ukasyah Ammar Robbani