Ketika Sapu Penyihir Jahat Patah
Di pulau Saman terdapat panti asuhan yang bernama Panti asuhan kurcica, dinamakan kurcica karena, pulau saman ditinggalkan oleh Kurcaci.
Anak-anak di panti asuhan kurcica diantaranya adalah, Razen, seorang kurcaci lelaki berbadan kurus yang hobi makan sayuran, dan kulitnya berwarna biru, Yoyo, seorang kurcaci lelaki berbadan kurus yang hobi berolahraga, dan kulitnya berwarna hijau, Bobi, seorang kurcaci lelaki berbadan gemuk yang hobi makan lemak, dan kulitnya berwarna abu-abu,
Ashira, seorang kurcaci perempuan berbadan kurus yang hobi berdandan, dan kulitnya berwarna merah muda, Sasya, seorang kurcaci perempuan berbadan agak gemuk yang hobi membaca buku, dia memakai kaca mata, dan kulitnya berwarna ungu.
Dan yang mengadopsinya adalah sepasang suami istri yang bernama Pak Stefan, dan Bu Raina yang tidak bisa mempunyai anak, dan mengadopsi kelima anak yang kehilangan ayah dan ibu.
Di siang hari yang cerah, para kurcaci lelaki, kecuali Pak Stefan memancing di tepi pantai yang luas sekali, sedangkan kurcaci perempuan, kecuali Bu Raina hanya menontonnya saja. Pak Stefan, dan Bu Raina berbelanja makanan di supermarket.
“yeaaahhh..!!!, dapat ikan besar…, wah.. bisa bisa, nanti kita makan besar nihh..!!” sorak Razen penuh semangat.
“wah.. Razen ternyata hebat ya …!” puji Ashira dengan senyuman manis. Razen malu.
“Eh, iya …, Razen hebat..!” Sasya ikutan memuji Razen.
“ah, iya!, Razen hebat! Bisa mengalahkanku!, aku saja baru dapat satu ekor ikan kecil kecil, sedangkan Razan, hanya mendapatkan satu ekor ikan tapi besar! Wah.. keren ya, Razen..” datang lagi pujian dari Yoyo. Razen bertambah malu.
“Wah, aku saja belum dapat seokor pun ikan.., Razen hebat..!!” puji Bobi.
“Ah, kalian ini ada ada saja.. aku jadi malu nih..!!” Razen malu.
Tiba Tiba…
“Hei, teman teman!, sepertinya, aku akan mendapatkan ikan besar!” sahut Bobi girang.
“Ah, masa sih?” Tanya Ashira.
Lalu, Bobi menarik pancingannya sekuat tenaga, dan… “teman teman, aku mendapatkan ikan yang lebih besar dari ikan Razen!!” mata Bobi berbinar binar ketika melihat ikan besar yang dipancingnya.
“Wah… benar! Bobi mendapatkan ikan yang lebih besar dari Razen! Keren..!” puji Ashira, Bobi malu mendengar pujiannya.
“Wah, iyaa.. bobi he..” kata kata Sasya terpotong oleh Razen,
“Ah, biasa saja! Pasti aku akan mendapatkan ikan yang lebih besar! Huh!” ucap Razen sombong. Semuanya hanya bingung.
Sudah berjam jam, Razen tidak mendapatkan satu pun ikan yang lebih besar dari ikan yang didapatkan Bobi.
“Mana ikannya?, katanya, akan mendapatkan ikan yang lebih besar dari Bibo! Yah.. kamu tidak bisa! Hahaha..!!” ejek Yoyo, sampai sampai, membuat muka Razen memerah, yang ingin marah.
“Diam!” seru Razen marah. Lalu, Razen kembali ke panti.
“Hei, teman teman, aku pernah diberi tau pak Stefan, kalau, di dekat pulau saman yang kita tempati ini, terdapat rumah Penyihir jahat!, kata pak Stefan, dia penculik anak kurcaci yang mudah marah, seperti yang dilakukan oleh Razen!, apa jangan jangan.. Razen akan diculik Penyihir jahat!!” jelas Yoyo panjang lebar.
“Hei!, jangan bicara yang enggak enggak deh!” tegur Ashira.
Tiba tiba..
“Toloooonggg!!!, toloooonggg!!!,” suara teriakan dari panti asuhan kurcica, terdengar sampai tepi pantai yang luas, tepatnya, tempat memancingnya anak anak kurcaci yang tinggal di panti asuhan kurcica.
“Eh, suara teriakan siapa itu? Sampai terdengar sampai di sini!” ucap Sasya.
“Iya! Berisik!, tapi, suaranya, berasal dari rumah panti!” seru Yoyo.
“Ya sudah, kalau begitu, bagaimana kalau kita selidiki bersama sama?” ajak Bobi.
“Setuju!!” seru semuanya kecuali Bobi.
Setelah mereka sampai di panti asuhan kurcica, mereka mengintip di pintu kamar Razen dan melihat, mulut Razen dibekap oleh nenek tua yang sangaat jelek, dan dibawanya ke luar melewati jendela memakai sapu terbangnya.
“Hei teman teman, nenek tua itu siapa?” Tanya Ashira.
“Aku tidak tahu!” seru semuanya, kecuali Yoyo.
“Sepertinya, aku tahu!” ucap Yoyo.
“Lalu, siapa dia?” Tanya semuanya.
“Hmm.. Penyihir jahat!” jawab Yoyo.
“Hmm.. sepertinya benar juga apa yang Yoyo katakan!” seru Bobi meyakinkan.
“Iya!, kita harus menolongnya!” ujar Ashira. Sasya hanya mengangguk.
“Apakah kita harus memberi tahu masalah ini kepada pak Stefan dan bu Raina?” Tanya Yoyo.
“Hmm.. sebaiknya jangan!” ucap Bobi.
“Eh?, mengapa bisa begitu?” Tanya Semuanya.
“Kalau kita menolongnya Razen bersama, tidak ada salahnya, kan?, lalu, bila kita berhasil menolong Razen, itu berarti, kita akan menjadi… PAHLAWAN CILIK..!!” jawab Bobi.
“Ah, benar juga!” seru semuanya.
“Yoyo, apakah kamu mengetahui ciri ciri, dan alamat penyihir jahat?” tiba tiba, Bobi bertanya kepada Yoyo
“Hmm.. aku tidak mengetahuinya…” jawab Yoyo seraya menundukkan kepalanya.
“Lalu, bagaimana kita akan menolong Razen?” Tanya Sasya.
“Pasti ada petunjuknya!” ucap Ashira.
“Oh, iya!, kita cari saja buku tentang penyihir di perpustakaan! Sepertinya ada!” seru Yoyo.
“Tuh, kan, ada petunjuknya!” ucap Ashira. Semuanya kesal melihat tingkah laku Ashira. “Eh, maaf teman teman ..”.
Mereka pun menuju ke perpustakaan yang tersedia di panti. Sesampainya di sana, semuanya langsung mencari buku tentang penyihir.
Ditengah tengahnya mencari, Yoyo menemukan buku yang berjudul… pe..nyi..hir.., ya!, penyihir!, “hai, teman teman! Aku menemukan bukunya! Lihat ini!”
“Coba lihat!” ucap semuanya, dan langsung menghampiri Yoyo.
“Wah.. iya! Coba kamu bacakan yang keras!” suruh Bobi kepada Yoyo.
“Oke, aku mulai!, penyihir jahat itu suka sekali menculik anak anak kurcaci yang mudah marah, setelah menculiknya, dia mengadopsi anak kurcaci yang dia culik dan diberi kejahatan di tubuhnya. Penyihir jahat mempunyai kekuatan dari sapu terbangnya, siapa yang bisa mematahkan sapu itu dikatakan dia anak yang sangat berani!, ada lagi satu penyihir, namanya penyihir baik. Penyihir baik akan menolong anak anak kurcaci bila ada yang kesusahan, penyihir baik tidak suka sekali menculiik anak anak kurcaci melainkan menyayanginya. Aduh, teman teman, aku capek banget bacanya!, tolong ambilkan minum dong!” Yoyo sudah mulai lelah membacanya.
Bobi, segera ke dapur untuk mengambil minum untuk Yoyo yang sudah kenal lelah.
“Nih, minumnya!” seru Bobi sambil memberikan segelas air putih pada Yoyo.
“Makasih, ya, Bobi!, kamu baik sekali!” ucap Yoyo.
“Iya, sama sama!” seru Bobi.
Setelah minum, Sasya bertanya kepada Yoyo, “Hei, Yoyo, apakah di buku itu tertulis alamatnya?”
“Hmm.. sebentar, akan kucari!” jawab Yoyo.
Beberapa detik kemudian…
“Ah, ini dia alamatnya!, di pulau Arretta, di sebelah timur terdapat banyak rumah penyihir jahat!, Akhirnya, ketemu juga!, eh, di sini juga ada petanya! Akan kusimpan peta ini baik baik!” ucap Yoyo.
“Ayo, kita mempersiapkan diri untuk menjadi…” kata kata Bobi terpotong oleh Sasya, Ashira dan Yoyo, “PAHLAWAN CILIK..!!” “Hahahaha!!” tawa semuanya.
“Kita harus membawa kompas!” seru Yoyo.
“Ya, betul!, karena rumah penyihir di sebelah timur!” seru Ashira kemudian.
“Hei, teman-teman! Sebaiknya, kita menyamar menjadi penyihir jahat saja! Supaya, kita tidak diculik juga seperti Razen!” susul Bobi.
“Ah, benar juga apa yang dikatakan Bobi!” ucap Yoyo.
“Semuanya!, apakah kita mempunyai kostumnya? Penyihir jahat tadi itu memakai baju berwarna hitam!, apakah kita mempunyainya?” Tanya Sasya.
“Oh, iya!, bagaimana kalau kita meminta tolong pada bu Manih supaya bisa menjahit empat baju hitam?” Tanya Bobi.
Oh, iya!, kalian belum tahu bu Manih ya?, bu Manih itu, jago sekali dibidang menjahit di pulau saman ini!, dia itu agak tua, tapi awet muda lho!, umurnya saja sudah 40 tahun!.
“Ayo kita kumpulkan uangnya!” sahut Sasya.
“Ayo” ucap semuanya.
Mereka semua mengumpulkan uang masing masing sehingga uangnya banyak.
“Wah! Uang kita sudah terkumpul banyak!, coba, kita hitung dulu yuk!” ucap Ashira.
“Ayo!” jawab semuanya.
Setelah dihitung …
“Wah!, uangnya berjumlah empat ratus ribu!” sorak Yoyo.
“Iya!, jadinya, kita bisa beli…” kata kata Bobi terpotong oleh Sasya, Ashira, dan Yoyo, “kostum penyihir jahat!!!”
“Hahahaha!!!” tawa semuanya.
Setelah itu, mereka ke rumah bu Manih untuk membeli baju yang seperti penyihir jahat, dan yang pastinya, mereka membawa uang!.
Setelah sampai di rumah bu Manih, mereka mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh bu Manih.
“Hei, kalian siapa?” Tanya pu Manih kelupaan.
“Masa, bu Manih lupa dengan kami?” Bobi balik bertanya.
“Eh, memangnya, kalian siapa?” Tanya bu Manih lagi.
“Kami ini, penghuni panti asuhan kurcica…!” seru Yoyo.
“Ah, ibu ingat! Ini, Bobi, lalu yang ini Yoyo, terus, yang ini.. hmmm, siapa ya? Ah, ibu ingat!, ini Ashira, dan yang ini.. sa…, oh, iya! Sasya!” jawab bu Manih terbata bata. “Eh.. kok, yang satu lagi tidak ada, yang namanya… siapa ya? Oh iya! Mmm.. Razen mana ya? Kok, tidak kelihatan dari tadi?” Tanya Bu Manih kebingungan.
“Eh, itu bu.. anu.. hmm.. dia tidak ingin ikut, dia hanya ingin tidur di panti, hehe..!” ucap Yoyo berbohong.
“Oh, kalau begitu, mau apa kalian datang ke sini?” Tanya Bu Manih.
“Hmm, kita datang ke sini untuk membeli empat baju yang mirip seperti baju penyihir jahat” ucap Sasya.
“Untuk apa kalian membeli itu?” Tanya bu Manih.
“Hmmm, ki… kita, ingin menjelajah pulau Arretta!” ujar Bobi.
“Pulau Arretta? Apa itu?” Tanya bu Manih.
“Tempat pa.. para penyihir tinggal..” jawab Sasya.
“Oh, begituu.., kebetulan sekali!, bu Manih menjual pakaian penyihir jahat lho!” seru bu Manih.
“Ah, yang benar bu?” Tanya semuanya kecuali bu Manih.
“Iya, benar!, bajunya berada di sebelah sana!” seru bu Manih sambil menunjuk ke arah pintu yang entah menuju kemana, mungkin, baju baju para penyihir!.
“Yuk, kita masuk!” ajak bu Manih.
“Ayo!” seru semuanya serempak.
Setelah masuk ke pintu itu, benar saja, mereka menemukan banyak sekali baju penyihir, ada yang warnanya hitam dan.. putih!.
“Bu Manih, baju warna putih, baju penyihir apa?” Tanya Ashira terhadap bu Manih.
“Kalian tidak tahu? Baju yang berwarna putih itu, baju penyihir baik!” seru bu Manih.
“Oooooohh…!!” Yoyo, Bobi, Ashira, dan juga Sasya hanya ber-oh panjang.
“Nih, silahkan dibeli!” seru bu Manih sambil menunjukkan 4 baju penyihir jahat berwarna hitam.
“Oh, berapa harganya?” Tanya Yoyo.
“Harganya hanya 40 ribu!” jawab bu Manih.
“Ya sudah, bu, ini uangnya!” seru Yoyo sambil menyodorkankan uang lima puluh ribu.
“Oh, terima kasih!, nih, kembaliannya!” seru bu Minah sambil menyodorkankan selembar kertas uang sepuluh ribuan.
“Oke, bu, kita pulang dulu ya!” seru semuanya.
“Iya, hati hati di jalan ya…!” pesan bu Manih sambil tersenyum.
Setelah mereka sampai di panti asuhan kurcica…
“Hei, semuanya!, apakah kalian tidak sadar, kalau ke pulau arretta harus menyeberangi lautan yang sangat dalam?” kata Sasya memberi tau.
“Oh, iya!, jadi kita lewat apa dong, ke sananya?” Tanya Ashira pada semuanya.
“Hmmm…, bagaimana kalau kita menaiki perahu saja?” susul Yoyo.
“Tapi, kan, kita tidak mempunyai perahu!” seru Bobi.
“Hei, jangan salah dulu…, aku pernah diberi tahu bu Raina kalau, di sekitar gudang di panti ini, ada perahu, jadi, kita bisa menaiki perahu itu kan?” jelas Yoyo.
“Ah, yang benar?” Tanya semuanya.
“Ya, sudah, kalau tidak percaya, kita cek saja yuk!” ajak Yoyo.
Mereka pun menuju gudang untuk mengecek kalau saja ada perahu di dalamnya.
“Mana perahunya?” Tanya Bobi terhadap Yoyo.
“Hmm.., itu!” seru Yoyo seraya menunjuk ke arah perahu dan dayungnya.
“Ah, iya, benar!, yuk kita ambil!” seru Ashira yang tiba tiba menyelak Bobi dan Yoyo.
“Yuk kita ambil!” seru Sasya.
Mereka pun membawa perahunya bersama dan dayungnya dipegang oleh Yoyo karena dia yang paling terdepan.
Setelah sampai di tujuan, mereka menurunkan perahunya di lautan yang dalam itu.
“Hei, teman teman, sepertinya, perahu ini hanya cukup dua orang!” Yoyo memberi tahu.
“Hmm.., bagaimana kalau Yoyo yang mengantarkan kita semua bergiliran ke pulau Arreta?” Tanya Ashira pada semuanya.
“Ya aku setuju!” seru Sasya. Yoyo dan Bobi hanya mengangguk bertanda menyetujuinya.
Setelah mereka menyeberanginya, mereka berganti baju dengan menggunakan baju penyihir jahat.
“Waduh, bagaimana ini?, aku takut kalau kita diculik juga!” Bobi ketakutan.
“Tenang saja Bobi!, kita, kan, sudah menyamar!” Yoyo menenangkan Bobi. Ashira, dan Sasya hanya mengangguk.
Saat di tengah perjalanan mereka menemukan seorang penyihir jahat yang mirip penyihir yang menculik Razen.
“Hei, teman teman!, lihat penyihir itu!, bukankah itu mirip dengan penyihir yang menculik Razen?” ujar Bobi pelan.
“Ah, iya!, itu mirip sekali!, apakah penyihir itu yang menculik Razen?” ujar Yoyo pelan.
“Ya sudah, supaya kita tidak penasaran, bagaimana kalau kita buntuti saja?” Tanya Ashira pelan.
Semuanya mengangguk.
Saat ditengah membuntuti, penyihir jahat itu diam dan menoleh ke belakang. Para anak kurcaci segera bersembunyi supaya tidak dilihat oleh penyihir jahat.
“Hmm, tidak ada siapa siapa!” lalu penyihir jahat itu melanjutkan perjalanannya.
Setelah selesai membuntutinya, ternyata penyihir jahat ke rumahnya, yang tepatnya tempat disimpannya Razen oleh penyihir jahat.
“Hei, teman teman!, ternyata benar! Penyihir itu yang menculik Razen!, apa jangan jangan … Razen akan diberi kejahatan di tubuhnya setelah ini!, kita harus cepat cepat menolongnya!” Seru Yoyo.
“Adakah di antara kalian yang berani masuk ke dalam?” Tanya Yoyo. Semuanya menggeleng kepala.
“Ya sudah, deh, aku saja yang masuk!, semuanya masuk ke dalam rumah ini lewat pintu belakang! tapi harus diam diam lho!” ujar Yoyo. Semuanya mengangguk.
Setelah itu, mereka melakukan rencananya.
Tok! Tok! Tok! Yoyo mengetuk pintu rumah penyihir jahat.
“Ya ada apa?” terdengar suara nenek nenek yang tepatnya adalah panyihir jahat.
“Maaf nek, mengganggu!” ucap Yoyo gemetaran
“Oh, tidak sama sekali menganggu, kok, nak!” seru penyihir jahat.
“Oh, makasih ya nek!” Yoyo berterima kasih.
“Oh, iya, sama sama!, silahkan duduk dulu nak!” seru nenek tua itu.
“Wah, wah.. ternyata penyihir jahat itu mengira aku ini adalah anak penyihir jahat!, hahaha..!” tawa Yoyo dalam hati.
“Hei!, kok, malah bengong sih?, ayo masuk!” ajak penyihir jahat.
“Oh, iya nek…” kataku.
Setelah duduk, penyihir jahat itu bertanya, “Mau apa kamu ke sini nak?”
“Oh, aku di sini hanya ingin mengenal nenek lebih dekat..” ucap Yoyo.
“Oh, begitu…, oke, nenek beri tahu.., nenek ini adalah salah satu penyihir paling hebat di pulau Arretta ini, karena nenek mempunyai sapu terbang seorang diri, tidak ada yang mempunyai sapu terbang kecuali nenek, nenek bernama Tharta, nenek berumur 59 tahun, tapi, nenek tetap cantik, kan?” jelas penyihir tua, lalu bertanya.
“I… iya nek..” jawab Yoyo.
“Kamu sendiri namanya siapa, nak?” Tanya penyihir jahat ramah.
“Hmm.. nama saya Yoyo, nek!” jawab Yoyo cepat.
“Rumahmu di mana, nak?” Tanya penyihir jahat. Yoyo terkejut.
“Waduh, nek!, aku harus segera pulang sekarang!” seru Yoyo seraya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 16.00.
“Oh, ya sudah kalau begitu!, pulang saja!” setelah itu, Yoyo berpamitan, dan keluar dari rumah penyihir jahat.
Saat di luar rumah penyihir jahat, Yoyo melihat teman temannya sambil membawa Sapu terbang milik penyihir jahat, dan ada Razen juga!.
“Wah!, kalian mendapatkannya!, ayo cepat!, kita ke perahu!” seru Yoyo senang.
“Teman teman!, terima kasih ya, telah menyelamatkanku!” Razen berterima kasih pada teman temannya.
“Sudah, sudah.., berterima kasihnya nanti saja..” kata Bobi pelan.
“Ayo cepat, kita ke perahu!” seru Yoyo pelan. Semuanya mengangguk.
Semuanya menuju ke perahu untuk kembali ke panti asuhan kurcica.
Setelah sampai…
Mereka, kecuali Razen, berganti baju dengan baju biasanya.
“Wah…, kerja bagus teman teman!, lalu di mana sapu terbangnya?, sini, kupatahkan!” seru Yoyo.
“Nih, sapunya!” seru Sasya sambil memberikan sapunya ke Yoyo.
KRAK..!! sapu terbangnya telah dipatahkan!. “Yeaaayyy…, akhirnya patah juga!” seru semuanya kecuali Razen.
“Hei, Razen!, coba kamu ceritakan, apa yang dialamimu saat kamu diculik oleh penyihir jelek! Ups!, maksudnya, penyihir jahat!” pinta Yoyo terhadap Razen.
“Oh, jadi begini, saat itu, aku sedang tiduran di kamar, setelah itu, jendela kamarku terbuka, dan kulihat ada penyihir jahat itu!, setelah itu, dia membawaku ke rumahnya, lalu dia menaruhku di gudang yang sangat jelek, lalu, dia mengikatku di kursi, dan membekapku supaya aku tidak berisik, lalu, dia pergi untuk jalan jalan, setelah dia pergi, dia memberikanku minuman yang menurutku itu sangat berbahaya, jadi aku menolaknya, dan tiba tiba saja, pintu diketuk oleh seseorang yang ternyata Yoyo, penyihir jahat pun membukakan pintunya, tiba tiba saja, Bobi, Ashira, dan Sasya menemukanku dan sapu terbangnya, lalu mereka melepaskanku, dan langsung pergi membawaku dan juga sapu terbangnya, dan kita pulang…!!” cerita Razen panjang lebar.
“Oh, begituu…” ucap semuanya. Dan mereka langsung tertawa riang.
Sedangkan nasib penyihir jahat…
“DI MANA SAPU TERBANGKUUU??!!” Penyihir jahat berteriak dengan kencangnya. Teriakan itu seperti sedang gempa bumi!.
“Sapu terbangkuu…!! Kau di mana… dan anak kurcaci itu?! Dimana dia? Dia berhasil kabur!!” Penyihir jahat terkejut. Dan dia menangis, “Huhuhu… nasibku yang malang…”.
Penyihir jahat hanya bisa menangis dengan tangisan buatannya sendiri… Kasihan ya…
Cerpen Karangan: Ukasyah Ammar Robbani